TERIMA KASIH BAGI PENGUNJUNG BLOGSPOT :SCAD BUKITKEMUNING SEMOGA AGAN SEMUA MENGGUNAKAN NYA DENGAN BIJAK THANKS FOR LIKE bY VIAN88AJA

Sabtu, 15 September 2012

Bahayanya Amarah Tak Terkedali


Sebab Marah
Secara garis besar, rasa marah bisa disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain menyangkut self control seseorang, pola pandang yang dianutnya, serta kebiasan-kebiasaan yang ditumbuhkannya dalam merespon suatu permasalahan. Ada pula teori yang menyatakan, ada orang-orang tertentu yang dilahirkan dengan membawa tendensi mudah atau lekas marah. Sementara sebab eksternal antara lain adalah situasi-situasi di luar diri seseorang yang memancing respon emosional, latar belakang keluarga, serta juga budaya dan lingkungan sekitar.

Tak dimungkiri, cara keluarga mendidik anak mempunyai pengaruh hingga anak itu dewasa. Begitu juga kondisi keluarga. Sejumlah penelitian membuktikan, keluarga tidak harmonis atau sering dilanda konflik cenderung membuat anggota-anggotanya bersifat mudah marah. Sementara latar budaya dan lingkungan sekitar juga berpengaruh besar. Ada budaya atau lingkungan tertentu yang menganggap kemarahan harus diekspresikan dengan jelas untuk menunjukkan ketegasan dan integritas. Kharakter budaya dan lingkungan seperti ini dapat membentuk seseorang yang menganggap melampiaskan marah itu biasa. Padahal, di lingkungan dan budaya lain, kharakter demikian bisa-bisa mendatangkan masalah.

Dalam keseharian, rasa marah bisa dikenali melalui sejumlah sebab-sebab berikut. Pertama, biasanya amarah muncul bila apa yang kita inginkan tidak terwujud sebagaimana seharusnya. Contoh; sebagai pembeli kita pasti ingin diperlakukan dengan sopan dan penuh perhatian. Ibaratnya kita ini adalah “raja” yang harus dilayani. Tetapi jika karyawan toko melayani dengan muka masam atau memberi servis yang tidak sesempurna yang kita harapkan, maka rasa dongkol, jengkel, dan marah pasti mudah muncul.

Kedua, amarah muncul jika ada pihak lain yang secara sengaja atau tidak mengeluarkan ucapan atau menunjukkan perilaku yang menyinggung perasaan kita. Contohnya jelas terlihat dalam ilustrasi di atas yang menggambarkan kemarahan Sisca kepada Andrei atasannya, semata hanya karena komentar sambil lalu.

Ketiga, amarah muncul karena kekurangmampuan kita dalam memenuhi tuntutan yang kita tetapkan sendiri atas diri kita. Contoh; kita mendapat tugas menyelesaikan pekerjaan dalam waktu secepat-cepatnya. Kemudian, kita berjanji pada diri sendiri bahwa kita harus dan pasti mampu menyelesaikannya sesuai jadwal. Kenyataannya, karena lengah atau sebab tertentu, pekerjaan tersebut tidak selesai pada waktunya. Akibatnya, kita marah pada diri sendiri karena kelalaian tersebut. Dan kemarahan pada diri sendiri seperti ini bisa saja merembet ke orang lain yang tidak tahu-menahu dengan duduk persoalannya.

Bahaya Marah
Melampiaskan rasa marah adalah sesuatu yang wajar. Bahkan marah yang diekspresikan secara semestinya dianggap sehat dan malah dianjurkan. Sebab, setelah melampiaskan marah biasanya orang merasa lega dan lebih tenang. Sebaliknya, rasa marah yang terus-menerus dipendam dan ditekan malah sama bahayanya dengan marah yang tidak terkendali. Sekalipun rasa marah yang bisa diekspresikan secara sehat dan wajar, tetapi jika terlalu sering muncul dampaknya tetap negatif. Rasa marah yang sering muncul sama saja dengan amarah yang tak terkendali, dan hal ini akan sangat mengganggu efektifitas kinerja dan relasi sosial kita. Apa saja bahayanya rasa marah yang tak terkendali?

Pertama, rasa marah menyebabkan konsentrasi kita terpecah-pecah dan keadaan ini sangat mengganggu pekerjaan kita. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi justru sangat berbahaya bila dilakukan dengan perasaan penuh kemarahan. Jika pekerjaan terganggu, hampir pasti kehidupan kita juga ikut terganggu, dan akhirnya karir kita pun terancam.

Kedua, rasa marah biasanya memperkeruh hubungan kita dengan pasangan, keluarga, sahabat, teman, rekan kerja, dll. Pada lingkungan tertentu yang bahkan bisa memaklumi ekspresi kemarahan seseorang, tetap saja pembawaan lekas marah cenderung merusak situasi dan pola komunikasi yang berlangsung di dalamnya. Orang bisa memaklumi kemarahan orang lain, tetapi sejatinya dia tetap saja tidak pernah mau menerima marah secara cuma-cuma. Daripada mencari masalah dengan seorang pemarah, kebanyakan orang cenderung enggan berkomunikasi dengannya atau malah menjauhkan diri darinya. Dalam hubungan sosial, keadaan ini jelas tidak sehat dan tidak menguntungkan bagi si pemarah.

Ketiga, dalam banyak kasus, kemarahan sering ditanggapi dengan rasa dendam. Karena dendam sering tidak tampak secara jelas, akibat-akibat negatifnya pun kadang baru dirasakan atau disadari jauh hari setelah sebab dendam itu muncul. Tak heran jika seorang pemarah kadang mendapati dirinya diperlakukan tidak adil tanpa dirinya merasa berbuat salah sebelumnya. Bisa jadi perlakuan tidak adil yang baru saja dialaminya itu merupakan ekspresi dendam seseorang akibat pelampiasan marahnya di waktu-waktu sebelumnya.

Maka jelaslah, sifat pemarah memang tidak menguntungkan. Mungkin sifat itu sudah berurat-berakar dan sulit sekali dihilangkan. Walau begitu, tetap ada cara-cara untuk mengendalikan amarah. Ada cara-cara untuk mempersulit keluarnya rasa marah supaya tidak muncul pada waktu-waktu yang tidak menguntungkan. Artikel berikutnya akan membahas kiat-kiat mempersulit munculnya rasa marah (bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar